Phobia Ular (Ophidophobia)

Phobia ular atau disebut Ophidophobia, merupakan salah satu bentuk phobia yang banyak dialami oleh manusia hampir diseluruh dunia. Bahkan menurut beberapa sumber phobia jenis ini termasuk ke dalam peringkat 10 besar phobia didunia. Ophidophobia sendiri adalah jenis phobia yang spesifik, turunan dari herpetophobia, phobia terhadap reptilia.

Phobia bisa didefinisikan sebagai ketakutan yang mendalam dan tidak masuk akal terhadap suatu objek atau situasi tertentu yang sebenarnya sedikit atau bahkan sama sekali tidak membahayakan. Phobia secara umum dipandang sebagai sebuah ketakutan yang berlebihan yang disebabkan oleh trauma masa lalu dan atau pengalaman orang lain, sehingga merangsang penderita phobia tersebut melakukan hal hal yang diluar batas kewajaran. Gejalanya bisa saja berbeda-beda bagi setiap orang, tapi yang biasanya terjadi adalah teriak histeris berkelanjutan, sesak nafas, mengigigil, bahkan pingsan.

Berbeda dengan phobia secara umum yang kebanyakan disebabkan oleh pengalaman pribadi, Phobia pada ular justru jarang disebabkan oleh pengalaman pribadi si penderita. Konon, ketakutan pada ular ini merupakan warisan dari nenek moyang kita terdahulu. Ketakutan pada ular cenderung diakibatkan karena persepsi yang salah tentang ular itu sendiri. Banyak orang beranggapan semua ular itu berbisa, dan jika kita digigit pasti akan meninggal dunia. Belum lagi mitos mitos yang berkembang di masyarakat tentang ular, maklum ular ini adalah binatang yang seringkali dikait-kaitkan dengan hal mistis.

Ada hal yang cukup menarik untuk dicermati, kenapa jarang sekali kita menemukan orang yang phobia terhadap macan, singa atau buaya, padahal mereka lebih menyeramkan dan ganas ketimbang ular, badannyapun lebih besar. Selain karena faktor warisan tadi, hal tersebut dikarenakan ular adalah binatang liar yang sering dijumpai disekitar lingkungan kita. Hampir disemua tempat dan lingkungan kita bisa menemukan ular, di sawah, hutan, sungai, laut, perumahan, bahkan di hotel mewahpun saya dan teman-teman SIOUX – Lembaga Studi Ular Indonesia, pernah menemukan ular.

Phobia , Takut, atau Jijik ?

Seringkali saya jumpai beberapa orang yang mengaku phobia terhadap ular dan ingin diterapi, tapi kebanyakan dari orang tersebut menurut saya sebenarnya bukan phobia terhadap ular karena gejalanya masih dalam taraf ketakutan yang normal. Sebagian lagi bahkan hanya merasa jijik atau geli saja.

Ketakutan adalah reaksi alamiah yang ditimbulkan dari dalam diri manusia sebagai respon adaptif. Reaksi ini bertujuan untuk melindungi diri kita dan mengaktifkan mode „lawan atau lanjutkan“ secara otomatis. Dengan peringatan dari tubuh dan pikiran serta kesiapan untuk melakukan suatu hal, maka kita akan dengan cepat merespon dan melindungi diri kita sendiri. Sedangkan pada phobia, hal ini menjadi lebih tinggi intensitasnya, dan menjadi tidak masuk akal. Contohnya : adalah normal jika anda takut pada Ular Cobra (Naja sputatrix) yang berbisa mematikan, tetapi berlebihan jika anda takut dan teriak –teriak histeris dengan Ular Mono Pohon (Candoia carinata) yang kecil, tidak berbisa bahkan tidak pernah menggigit di alam liar sekalipun.

Ophidophobia menurut tingkat ketakutannya bisa dikategorikan menjadi 2, Mild Ophidophobia (sedang) dan Strong Ophidophobia (Kuat). Pada Mild Ophidophobia, biasanya disebabkan oleh sebagian besar ular saja, misalnya ular berbisa saja, atau ular ular yang besar saja serta reaksi yang ditimbulkan akibat phobia level ini antara lain, lari, teriak histeris terus-menerus, nangis, gemetar, sesak nafas. Sedangkan pada Strong Ophidophobia, disebabkan oleh semua jenis ular bahkan gambarnya saja baik yang terlihat maupun yang hanya ada dalam pikirannya saja, reaksi yang ditimbulkan hampir sama dengan Mild Ophidophobia dengan intensitas yang lebih tinggi ataupun reaksi yang lebih cepat ditambah reaksi lain yang berlebihan, jatuh pingsan, panas-dingin, sampai melemparkan segala sesuatu ke segala arah.

Walau bagaimanapun, untuk memastikan anda termasuk phobia atau bukan, anda bisa memastikan ke orang yang ahlinya. Bisa dengan bantuan dokter ataupun psikiater. Analoginya, ketika anda batuk atau flu anda mungkin cukup membeli obat di warung saja, tetapi jika itu sudah berlebihan dan berlangsung lama, maka anda harus memeriksakannya ke dokter.

Selain ketakutan dan phobia, beberapa orang sebenarnya hanya merasa jijik atau sebagian bahkan bilang geli. Perasaan jijik ditimbulkan karena pemikiran orang yang beranggapan bahwa ular itu adalah binatang yang berlendir, padahal faktanya ular sama sekali tidak berlendir. Itu sebabnya juga, mitos ular takut garam tidak pernah terbukti, karena garam hanya akan menyebabkan iritasi ringan saja pada kulit ular, sama seperti reaksi ketika manusia berenang di laut. Untuk perasaan geli ini saya tidak bisa mendefinisikan secara jelas, karena makna geli yang dimaksud sepertinya berbeda dengan makna geli sesungguhnya dalam bahasa indonesia. Mungkin maksudnya hampir sama dengan jijik.

Fakta tentang Ular

Kesalahan persepsi tentang ular menjadi salah satu faktor dominan yang menghantui pikirian seseorang tentang ular yang akhirnya menjadi phobia, ketakutan atau jijik terhadap ular. Akibatnya banyak ular yang terbunuh sia-sia karena paradigma kita yang salah tentang ular.Banyak fakta – fakta yang justru berkebalikan dari persepsi masyarakat tentang ular selama ini. Beberapa hal tentang ular yang mungkin perlu diluruskan adalah :

Ular bukan binatang yang berlendir dan licin. Persepsi orang bahwa ular itu berlendir adalah salah, karena pada faktanya tubuh ular dilapisi oleh kulit yang sama seperti manusia dan dibagian luar dilapisi oleh sisik yang bahannya sama dengan kuku kita. Sisik ular merupakan satu kesatuan, tidak seperti sisik ikan yang berdiri sendiri sendiri. Mereka tidak memiliki kelenjar keringat seperti milik anda dan saya, jadi kulit mereka senantiasa dingin dan kering.

Tidak semua ular berbisa. Dari kurang lebih 500 jenis spesies ular di Indonesia hanya sekitar 5% saja yang berbisa mematikan. Yang mungkin sering kita jumpai di pulau jawa mungkin sekitar 10 jenis saja. Bisa ular, adalah anugerah diberikan Tuhan untuk membuat ular tetap bertahan tanpa kaki dan tangan di alam liar.

Ular, seperti hewan liar lainnya, sebenarnya memiliki ketakutan yang sama pada manusia. Mereka lebih memilih menghindar jika bertemu manusia. Kebanyakan kasus gigitan ular pada manusia dikarenakan manusia itu sendiri. Misalnya terinjak, atau sengaja ingin menangkapnya. Karena manusia bukan makanan ular, mereka tidak akan dengan sengaja memburu manusia untuk menjadi santapan, walaupun mereka adalah karnivora.

Ular menjulurkan lidahnya untuk mendeteksi partikel bau di udara. Mereka tidak mencium bau dengan hidung seperti anda, mereka menggunakan lidah untuk mengumpulkan partikel bau dan melewatkan partikel bau ke suatu organ yang dinamakan Jacobson yang kemudian diterjemahkan. Ini adalah bagian yang penting dari ular yang digunakan dalam berburu mangsanya. Seringkali juluran lidah ular dikonotasikan sebagai ancang-ancang untuk menyerang, padahal sama sekali tidak benar.

Mengatasi Ophidophobia

Ophidophobia tentu saja bisa disembuhkan dengan berbagai cara, secara umum ada tiga cara mengatasi phobia, yaitu dengan terapi dan medis. Tapi disarankan untuk menggunakan metode terapi terlebih dahulu, penanganan medis dengan obat-obatan hanya jika diperlukan saja.

Ada beberapa metode terapi yang bisa digunakan untuk mengatasi phobia akan ular ini, yang pertama yang biasa digunakan adalah Cognitive-behavioral therapy (CBT), teknik ini focus untuk menghentikan pikiran negative yang muncul secara otomatis yang berhubungan dengan ular, dan menggantikannya dengan pikiran pikiran yang lebih masuk akal. CBT merupakan gabungan dari dua teknik terapi cognitive dan behavioral. CBT melihat kepribadian seseorang terbentuk dari pengalaman masa kanak-kanak dan remaja. Dengan metode ini kita bisa menggali penyebab munculnya phobia tersebut sehingga kita bisa menggantinya dengan hal yang berkebalikan. Misalnya jika Aji phobia akan ular dikarenakan pengalaman masa kecilnya yang pernah digigit ular berbisa, maka tiap melihat ular dia akan memiliki ketakutan yang berlebihan. Dengan metode CBT, Aji diminta untuk melihat interaksi yang berkebalikan antara ular dan manusia, misalnya melihat ular yang jinak dan bermain dengan manusia, warna ular yang kuning, hijau, atau albino, disini kemampuan kognitifnya akan bekerja untuk memikirkan bahwa tidak semua ular berbisa, dan tidak semua ular akan menggigit dia.

Metode kedua adalah dengan cara Exposure Therapy. Teknik ini menggunakan cara mengekspos objek ketakutan penderita phobia. Seorang Ophidophobis, akan terus menerus diajak untuk lebih dekat dengan ular selangkah demi selangkah. Penderita akan diajak untuk melihat ular dari gambarnya terlebih dahulu, menonton film tentang ular, melihat kotak ular dari jauh, sampai nanti bisa berinteraksi dengan ular secara langsung.

Ketiga adalah dengan metode hypnosis / hypnotheraphy. Metode ini mungkin paling cepat, terapis akan membawa Ophidophobia ke dalam alam bawah sadarnya dan mulai memberikan sugesti sugesti positif tentang ular. Walaupun begitu metode ini pun tidak bisa sekali jadi, setiap orang pasti berbeda hasilnya.

Dengan beberapa metode diatas Ophidophobia bisa diatasi dengan baik. Hanya tinggal niat dan kemauan dari penderita saja yang akan membuatnya menjadi lebih cepat atau lebih lambat.

This entry was posted in Article and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s